Halaman

Pemberdayaan Perempuan

Perkuat keyakinan, buang semua keraguan. Karena keraguan hanya akan menghambat perjalanan menuju keberhasilan.

Pendidikan Anak Usia Dini

Anak Usia Dini adalah masa keemasan, kecerdasan yang harus dioptimalkan sejak usia dini.

Melestarikan kesenian dan budaya

Tarian dan kebudayaan adalah salah satu kesenian dan kebudayaan yang kita miliki, dan menjaga dan melestarikan adalah menjadi tugas kita bersama.

Refreshing

Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang Anda miliki, bukan pula berasal dari siapa diri Anda, atau apa yang Anda kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran Anda.

Pelatihan Rursus

Kursus untuk mengembangkan potensi dan kreatifitasan yang kita miliki

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Seni Jawa Tengah




GAMELAN JAWA
Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut)”Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan, hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.
WAYANG KULIT
Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme.
Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.
TARIAN JAWA
Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.
Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia) (Soedarsono, 1990). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.
KERIS JAWA
Keris dikalangan masyarakat di jawa dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “ dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. Di kalender masyarakat jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton merupakan kepercayaan terbesar pada hari satu sura.
Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu. Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

KETOPRAK Ketoprak kalebu salah sawijining kesenian rakyat ing Jawa tengah, ananging ugo bisa tinemu ing Jawa sisih Wetan (Jawa Timur ).Ketoprak wis nyawiji dadi budaya masyarakat Jawa tengah lan biso ngasorake kesenian liyane ,umpamane Srandul, Emprak lan sakliyane. Ketoprak wiwit bebukane awujud dedolanan para priyo ing dusun kang lagi nganaake lelipur sinambi nabuh lesung kanthi irama ana ing waktu wulan purnama ndadari , kasebut Gejog. Ana ing tembe kaering tembang bebarengan ing kampung /dusun kanggo lelipur . Sak teruse ana tambahan gendang, terbang lan suling, mula wiwit saka iku kasebut Ketoprak Lesung, kira-kira kadadeyan ing tahun 1887. Sak banjure ana ing tahun 1909 wiwitan dianaake pagelaran Ketoprak kanthi paripurna/lengkap.
Pagelaran Ketoprak wiwitan kang resmi ing ngarsane masyaraket/umum, yokuwi Ketoprak Wreksotomo, dipandegani dening Ki Wisangkoro, sing mandegani kabeh para pria. Carita kang dipagelarake yoiku : Warso – Warsi, Kendono Gendini, Darmo – Darmi, dlan sapanunggalane.
Sak wise iku pagelaran Ketoprak sang soyo suwe dadi lan apike lan dadi klangenane masyarakat, utamane ing tlatah Yogyakarta. Ing kadadeyan sak wise Pagelaran Ketoprak dadi pepak anggone carita lan ugo kaering gamelan . Anane gegayutan karo pagelaran “teater” para narapraja ,

http://shuntoro.wordpress.com/seni-jawa-tengah/ 

Selasa, 19 Juni 2012

Mengupas Sejarah dan Makna Tari Tor-Tor

"Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang.

Tari Tor-tor dari Sumatra Utara, ditampilkan saat ada ritual panen, kematian, dan penyembuhan. Wujudnya mulai bertransformasi di wilayah perkotaan karena menjadi tontonan, tidak semua yang melihatnya ikut terlibat (Irsan Mulyadi/Fotokita.net)

Melimpahnya kebudayaan Indonesia terlihat dari beragamnya bentuk pertunjukan, tarian, alat musik, dan pakaian. Bukan hal mudah untuk menciptakannya karena harus mencurahkan akal budi dan daya upaya masyarakat suatu wilayah. Wajar jika kemudian terjadi perdebatan panjang saat Tari Tor-tor dan Gordang Sembilan (Gondang Sembilan) dari Mandailing, Sumatra Utara, dinyatakan akan menjadi hak cipta Malaysia.
Menurut Togarma Naibaho, pendiri Sanggar budaya Batak, Gorga, kata "Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama mengentak. "Tujuan tarian ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Dan tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui," kata Togarma kepada National Geographic Indonesia, Selasa (19/6).
Pesan ritual itu, lanjut Togarma, ada tiga yang utama. Yakni takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kemudian dilanjutkan pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara. Barulah dilanjutkan ke tema apa dalam upacara itu.
"Makna tarian ini ada tiga, selain untuk ritual juga untuk penyemangat jiwa. Seperti makanan untuk jiwa. Makna terakhir sebagai sarana untuk menghibur," imbuh mantan pengajar Seni Rupa dan Desain di Universitas Trisakti, Jakarta itu.
tari tortor,sumatra utaraTari Tor-tor dari Sumatra Utara. Tarian ditampilkan dengan maksud membangkitkan jiwa yang ada dalam diri manusia. (Feri Latief)
 
           Durasi Tari Tor-tor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Di tanah Batak, hal ini tergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain. Dimintalah satu buah lagu pada pemusik. Jika maksud sudah tersampaikan, barulah tarian dihentikan.
      Tarian ini akhirnya bertransformasi di Ibu Kota karena mulai ditampilkan di upacara perkawinan. Jika sudah sampai di upacara ini, bentuknya bukan lagi ritual melainkan hiburan. Karena menjadi tontonan dan tidak semua yang hadir ikut terlibat dalam tarian tersebut.
         Memang belum ada buku yang mendeskripsikan rekam sejarah Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan. Namun, ditambahkan oleh Guru Besar Tari Universitas Indonesia Edi Sedyawati, sudah ada pencatatan hasil perjalanan di zaman kolonial yang mendeskripsikan Tari Tor-tor.
          Meski demikian, sama seperti kebudayaan di dunia ini, Tari Tor-tor juga mengalami pengaruh dari luar yaitu India. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh pengaruhnya bisa tercatat hingga ke Babilonia.

Gondang Sembilan
       Tari Tor-tor selalu ditampilkan dengan tabuhan Gondang Sembilan. Warga Mandailing biasanya menyebutnya Gordang Sembilan, sesuai dengan jumlah gendang yang ditabuh.
Jumlah gendang ini merupakan yang terbanyak di wilayah Suku Batak. Karena gendang di wilayah lainnya seperti Batak Pakpak hanya delapan buah, Batak Simalungun tujuh buah, Toba enam buah, dan di Batak Karo tingga tersisa dua buah gendang.
       Menurut analisa Togarma, banyaknya jumlah gendang ini ada hubungannya dengan pengaruh Islam di Mandailing. Di mana besarnya gendang hampir sama dengan besar bedug yang ada di masjid. "Ada kesejajaran dengan agama Islam. Bunyi gendangnya pun mirip seperti bedug."
          Gendang ini juga punya ciri khas lain yakni pelantun yang disebut Maronang onang. Si pelantun ini biasanya dari kaum lelaki yang bersenandung syair tentang sejarah seseorang, doa, dan berkat. "Senandungnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunitas peminta acara," imbuh Togarma.
         Sayangnya keindahan budaya Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan ternoda dengan kurangnya penghargaan. Sulit mencari pihak yang mau membiayai pagelaran budaya ini, terutama di Ibu Kota. Hanya karena pejuang-pejuang seni Batak, Tari Toro-tor dan Gondang ini masih tumbuh dan terlihat keberadannya.
"Kebudayaan itu pengisi batin, bagian dari kehidupan. Karena hidup tidak cukup dengan makan saja, jiwa juga harus terisi seni," ujar Togarma.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/06/mengupas-sejarah-dan-makna-tari-tor-tor

 

Senin, 28 Mei 2012

KE-KARANG TARUNA-AN

Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa / Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial. Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia dilingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada. Sebagai organisasi kepemudaan, Karang Taruna berpedoman pada Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga dimana telah pula diatur tentang struktur penggurus dan masa jabatan dimasing-masing wilayah mulai dari Desa / Kelurahan sampai pada tingkat Nasional. Semua ini wujud dari pada regenerasi organisasi demi kelanjutan organisasi serta pembinaan anggota Karang Taruna baik dimasa sekarang maupun masa yang akan datang. karang Taruna beranggotakan pemuda dan pemudi (dalam AD/ART nya diatur keanggotaannya mulai dari pemuda/i berusia mulai dari 11 – 45 tahun) dan batasan sebagai Pengurus adalah berusia mulai 17 – 35 tahun. Karang Taruna didirikan dengan tujuan memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada para remaja, misalnya dalam bidang keorganisasian, ekonomi, olahraga, advokasi, keagamaan dan kesenian.

http://karangtarunaprasung.wordpress.com/2009/05/01/ke-karang-taruna-an/

Selasa, 01 Mei 2012

PENDIDIKAN KEAKSARAAN


KONSEP DASAR PENDIDIKAN KEAKSARAAN

A.      PENGERTIAN 
Program pendidikan keaksaraan merupakan bentuk layanan pendidikan nonformal untuk membelajarkan warga masyarakat buta aksara, agar memiliki keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung, yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dengan memanfatkan potensi yang ada dilingkungan sekitarnya, sehingga WB dan masyarakat dapat meningkatkan mutu dan taraf hidupnya.

B.       TUJUAN PENYELENGGARAAN 
Mengembangkan kemampuan warga belajar dalam memecahkan masalah sehari-hari yang dihadapi oleh mereka;  Melatih warga belajar untuk menggunakan keterampilan dan kompetensi keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari; Memotivasi warga belajar sehingga mampu memberdayakan dirinya sendiri dengan menggunakan kompetensi keaksaraan; Mengembangkan kemampuan berusaha atau bermata pencaharian sehingga mampu meningkatkan mutu dan taraf hidupnya; Mengembangkan kemampuan dan minat baca warga belajar sehingga mampu menjadi bagian dari masyarakat gemar membaca dan masyarakat belajar 

C.       PRINSIP-PRINSIP DASAR PENDIDIKAN KEAKSARAAN 
·         Konteks Lokal; 
·         Desain Lokal 
·         Proses Partisipatif; 
·         Manfaat Hasil Belajar 

D.      PRINSIP PENYELENGGARAAN 
Konteks lokal: Kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan minat, kebutuhan pengalaman, permasalahan dan situasi lokal serta potensi yang ada disekitar WB. 
Desain lokal: Tutor bersama WB merancang kegiatan pembelajaran di kelompok belajar sebagai jawaban atas minat, kebutuhan, dan permasalahan lokal. 
Partisipatif: Tutor perlu melibatkan WB berpartisipasi secara aktif dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian hasil pembelajaran 
Fungsionalisasi Hasil Belajar: WB diharapkan dapat memecahkan masalah keaksaraannya dan meningkatkan mutu serta taraf hidupnya. 

E.       STRATEGI PEMBELAJARAN CALISTUNGKASI 
·         Mendengarkan 
·         Berbicara 
·         Membaca 
·         Menulis 
·         Berhitung 

F.        TINGKAT LEVEL KEMAMPUAN WARGA BELAJAR 
  •  Tingkat Dasar 
  • Tingkat Lanjutan 
  • Tingkat Mandiri 
SK Dirjen PNF:258/E/MS/2009 (Tgl 3/6/209) Tentang pendidikan Keaksaraan diselaraskan menjadi: 
Pendidikan Keaksaraan Dasar 
Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri 

Program-program Pendidikan Keaksaraan 2009 
Keaksaraan Dasar adalah upaya peningkatan kemampuan keberaksaraan penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas agar memiliki kemampuan membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, dan berhitung, untuk mengkomunikasikan teks lisan dan tulis menggunakan aksara dan angka dalam bahasa Indonesia 
Keaksaraan Usaha Mandiri adalah upaya penguatan keberaksaraan melalui pelatihan keterampilan yang dapat meningkatkan penghasilan dan produktivitas seseorang atau kelompok. 

PENDIDIKAN KESETARAAN


Pengertian Pendidikan Kesetaraan

Pendidikan Kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakanpendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencangkupprogram Paket A, Paket B, dan Paket C (Penjelasan Pasal 26 Ayat (3) UU Sisdiknas No.20/2003). Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil programpendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yangditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada StandarNasional Pendidikan (UU No 20/2003 Sisdiknas Pasal 26 Ayat (6).

1.      Program Paket A.
Program Paket A adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformalyang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setaraSD/MI. Lulusan Program Paket A berhak mendapat ijazah dan diakui setara denganijazah SD/MI.
2.      Program Paket B
Program Paket B adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformalyang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setaraSMP/MTs. Lulusan Program Paket B berhak mendapat ijazah dan diakui setara denganijazah SMP/MTs.
3.      Program Paket C
Program Paket C adalah program pendidikan menengah pada jalur pendidikannonformal yang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikansetara SMA/MA. Lulusan Program Paket C berhak mendapat ijazah dan diakui setaradengan ijazah SMA/MA

PEMBERDAYAAN EKONOMI
Fokus utama pemberdayaan ekonomi pada pengembangan kegiatan simpan pinjam dan lembaga keuangan mikro (LKM) dan pengembangan usaha kecil mikro (UKM).  Kedua fokus ini saling terkait dan mendukung satu sama lainnya.
a    a.  Simpan pinjam dan LKM
Simpan pinjam merupakan kegiatan pintu masuk yang dipilih dalam pemberdayaan Pekka.  Oleh karean itu, semua kelompok Pekka yang dibentuk, dimotivasi untuk memulai kegiatan dengan simpan pinjam dengan menerapkan sistem koperasi.  Agar mereka dapat mengelola simpan pinjam dengan baik, maka diberikan berbagai pelatihan baik berupa pelatihan dalam kelas maupun pendampingan rutin terkait.  Ada tiga macam pelatihan dalam kelas untuk pengelola kegiatan simpan pinjam yaitu pelatihan Managemen kelompok, pembukuan dan kepemimpinan. 
Pada periode ini, ada 309 orang pengelola simpan pinjam yang telah mengikuti pelatihan Managemen kelompok simpan pinjam dan 474 orang telah berlatih pembukuannya.  Sementara itu, telah pula dilatih secara intensif 492 pemimpin kelompok simpan pinjam ini dan 220 pengurus LKM untuk pengembangan LKM.
Proses ini membuahkan hasil menggembirakan yang terlihat dari pertumbuhan positif jumlah kelompok simpan pinjam sejak awal terbentuk hingga akhir tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan kelompok 12% per tahun. Kelompok-kelompok ini juga telah berhasil mengembangkan 31 LKM. Kelompok-kelompok ini telah pula mampu menghimpun dana simpanan swadaya dengan rata-rata pertumbuhan 16% pertahun.  Hingga akhir tahun 2008 jumlah simpanan yang terakumulasi diseluruh kelompok mencapai Rp.1,769,402,717; yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan khusus dan simpanan sukarela.  Jumlah ini termasuk sangat besar mengingat anggota Pekka merupakan kelompok termiskin dalam masyarakat.  Hal ini juga mematahkan mitos bahwa orang miskin tidak mampu menabung.

Sementara itu, pinjaman anggota kelompok juga menunjukkan kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Data kumulasi pinjaman kelompok pada akhir tahun 2008 menunjukkan angka Rp.17,290,345,050.  Setiap tahun rata-rata kenaikan akumulasi pinjaman mencapai 16,5%.

Modal kelompok simpan pinjam diperoleh selain dari simpanan anggota juga dari dana bantuan langsung masyarakat (BLM) yang disediakan dalam proyek.  Sampai akhir tahun 2008, ada dua termin dana BLM yang diberikan pada kelompok simpan pinjam Pekka.  Pada periode 2001-2004 tercatat Rp.5,220,401,170 dana BLM untuk kegiatan usaha ekonomi produktif telah diterima oleh kelompok Pekka dan periode tahun 2005-2008 dana BLM untuk usaha ekonomi produktif yang disalurkan ke kelompok Pekka mencapai Rp.5,448,071,405,-
Kegiatan simpan pinjam kelompok menghasilkan uang jasa yang menjadi pendapatan kelompok dan dinikmati oleh anggota pada akhir tahun sebagai sisa hasil usaha (SHU).  Secara kumulatif jasa kelompok juga bertumbuh rata-rata 16% setiap tahunnya.  Pada akhir tahun 2008, total jasa simpan pinjam kelompok Pekka mencapai Rp.998.312,803.

b   b. Usaha Kecil Mikro (UKM)
Pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan usaha kecil mikro bagi kelompok Pekka dilakukan dengan berbagai cara termasuk pendampingan dan pelatihan usaha.  Ada empat jenis pelatihan terkait dengan pengembangan UKM yaitu pelatihan wirausaha, Management usaha, keterampilan tekhnis usaha, dan konsultasi usaha.  Pada periode ini tercatat 450 orang telah mengikuti pelatihan wirausaha dan 346 orang mengikuti pelatihan Management usaha. Pelatihan tekhnis usaha diberikan sesuai dengan kebutuhan dan potensi usaha setiap wilayah.  Paling tidak ada 52 jenis pelatihan tekhnis usaha yang telah dilakukan Seknas Pekka dengan peserta mencapai 1,346 orang.  Selain pelatihan tersebut diatas, konsultasi usaha juga diberikan pada sekitar 55 orang.
Berbagai pelatihan ini membuahkan hasil dengan tumbuh dan berkembangnya usaha individu maupun kelompok.  Hingga akhir tahun 2008 tercatat telah tumbuh dan berkembang 47 unit usaha bersama yang dikelola oleh kelompok. Selain itu, kelompok juga telah mampu mengembangkan mitra usaha guna membantu perkembangan usaha mereka.  Paling tidak ada 40 lembaga mitra usaha kelompok Pekka yang secara aktif ikut membantu perkembangan usaha mereka dengan memberikan berbagai bantuan termasuk pelatihan dan arena untuk pameran.  Dalam hal ini kelompok Pekka telah pula melakukan pameran usaha sekitar 33 kali di berbagai tingkatan mulai dari tingkat wilayah hingga ke tingkat nasional.
 




PAUD


Pengertian PAUD....??

PENGERTIAN PAUD
Pendidikan anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. (Bab I Ketentuan umum UU SPN No. 20  Tahun 2003)
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal, non formal dan/atau informal.
Catatan:
·         Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal.
·         Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
·         Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak atau bentuk lain yang sederajat
·         Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, atau bentuk lain yang sederajat
·         Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan

http://suwandiclick.blogspot.com/2012/02/pengertian-paud.html